Labels

Wednesday, October 12, 2011

ANALISIS USAHATANI TANAMAN KAKAO ( Theobroma cacao. L ) DI KECAMATAN LUBUK TAROK KABUPATEN SIJUNJUNG

I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Di Indonesia pembangunan ekonomi dilakukan melalui berbagai sektor, salah satunya adalah disektor pertanian. Sektor pertanian dalam arti luas menurut Mubyarto (1989 ) mencakup pertanian rakyat, perkebunan yang meliputi perkebunan rakyat, kehutanan, peternakan dan perikanan yang terdiri dari perikanan darat dan perikanan laut.
Pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, memperluas lapangan pekerjaan dan kesempatan berusaha, serta mengisi pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri melalui pertanian yang maju, efisien dan tangguh sehingga mampu meningkatkan dan menganekaragaman hasil, meningkatkan mutu dan derajat pengolahan produksi serta menunjang pembangunan wilayah.
Meskipun peranan sektor pertanian secara relatif semakin berkurang karena terjadinya proses transpormasi struktural perekonomian nasional akibat keberhasilan pembanguan ekonomi yang dicapai namun sektor pertanian akan tetap memegang peranan yang sangat penting dalam struktur pertanian nasional, hal ini dapat dilihat dari besarnya Produk Domestik Broto Indonesia tahun 2005 sebesar 1.749,5 triliun, dimana 13,40 % berasal dari sektor pertanian ( Anonim, 2005 )
Pemerintah mulai menaruh perhatian dan mendukung industri kakao pada tahun 1975. Meningkatnya usaha dibidang pembudidayaan tanaman kakao ini telah dapat  meningkatkan hasil devisa bagi negara melalui melalui ekspor dan mendorong ekonomi daerah terutama daerah pedesaan. Tahun 2005 tercatat luas perkebunan kakao di Indonesia 809.300 ha dan eksport kakao Indonesia sebanyak 539.600 ton (Anonim, 2005).
Di Provinsi Sumatera Barat, mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah bercocok tanam, hal ini terlihat dari luas Provinsi Sumatera Barat  42.297.300 ha, dimana 603.263 ha  merupakan lahan pertanian dan lahan perkebunan 85.188 ha. Jumlah penduduk Sumatera Barat tahun 2006 sebesar 4,53 juta, dimana 70 % diantaranya adalah bermata pencaharian bertani, dan 60 % diantaranya adalah petani perkebunan (Anonim, 2006)
Sebagai daerah yang telah ditetapkan menjadi sentra produksi kakao  wilayah barat, sudah saatnya Provinsi Sumatera Barat memacu diri untuk menjadi yang terbaik dan menghasilkan produksi yang tinggi. Saat ini produksi kakao di Provinsi Sumatera Barat baru mencapai 14-15 ribu ton, dan ini masih kurang untuk permintaan dalam negeri maupun luar negeri. Kakao dari Provinsi Sumatera Barat bermutu baik dan mutunya berimbang dengan kakao yang berasal dari Negara Ghana dan Pantai Gading, tapi sayangnya tidak semua petani melakukan fermentasi, sehingga mutu kakao dari Indonesia termasuk Sumatera Barat kalah bersaing dengan negara yang lebih dahulu mendapatkan tempat di kalangan negara pengimport kakao, seperti Negara Ghana dan Pantai Gading.
Untuk merobah pola pikir tersebut, maka sudah saatnya Provinsi Sumatera Barat mengambil bagian dalam mengisi pasar domestik maupun luar negeri, agar bisa dilirik dunia internasional. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah yaitu melalui pengembangan dan pembinaan yang berkelanjutan dari segala unsur yang terkait, diantaranya dengan melakukan pembinaan melalaui penyuluhan, analisis dan pengkajian mengenai budidaya tanaman kakao, sehingga bisa meningkatkan produksi tanaman kakao di Provinsi Sumatera Barat khususnya di Kabupaten Sijunjung.
Kabupaten Sijunjung merupakan salah satu sentra produksi perkebunan rakyat di Sumatera Barat, salah satu komoditi perkebunan yang menonjol adalah tanaman kakao. Menurut Laporan Tahunan Dinas Perkebunan Kabupaten Swl/ Sijunjung tahun 2008, tanaman kakao terdapat hampir disemua kecamatan di Kabupaten Sijunjung, salah satunya adalah Kecamatan Lubuk Tarok yang juga sentra produksi kakao di Kabupaten Sijunjung. Luas perkebunan kakao di Kabupaten Sijunjung tahun 2008 adalah 417 Ha dengan produksi 520 ton, sedangkan di Kecamatan Lubuk Tarok luasnya 82 Ha dengan produksi 56 ton (Anonim, 2008). Hasil ini sungguh jauh dari yang diharapkan, dimana optimalnya produksi tanaman kakao 2 - 4 ton/ ha ( Siregar, dkk,  2006 )
Bagi keluarga petani, mereka mengusahakan tanaman kakao sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.  seluruh hasil ditujukan untuk dijual. Usahatani kakao yang diusahakan petani di Kecamatan Lubuk Tarok, masih merupakan usahatani rakyat yang pengusahaannya masih secara konvensional. Kebun kakao yang sudah ada perawatannya kurang maksimal, secara umum keadaan kebun kakao di Kecamatan Lubuk Tarok tidak dilakukan pemangkasan dan pemupukan. Dalam pengolahan hasil tidak dilakukannya fermentasi, pengolahan hasil yang  dilakukan secara sederhana yaitu berbentuk biji kering yang kemudian disalurkan ke pasaran yang ada di kecamatan dan Kabupaten, bahkan sampai ke provinsi. Karena tidak dilakukannya fermentasi sehingga mutu kakao dari Kecamatan Lubuk Tarok  kurang baik, sehingga harga jual yang diterima petani juga rendah.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan hal tersebut diatas dapat dirumuskan masalah :
1.      Masih rendahnya tingkat penerimaan dan keuntungan yang diterima oleh petani kakao di Kecamatan Lubuk Tarok.
2.      Masih kecilnya ratio penerimaan atas tenaga kerja usahatani tanaman kakao di Kecamatan Lubuk Tarok.
3.      Masih kecilnya ratio penerimaan atas modal usahatani tanaman kakao di Kecamatan Lubuk Tarok.
Dengan adanya rumusan masalah tersebut diatas maka penulis melakukan pengkajian dengan judul “Analisis Usahatani Tanaman Kakao (Theobroma cacao. L) di Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung”
C.    Tujuan Pengkajian
Pengkajian ini bertujuan untuk :
  1. Menghitung pendapatan usahatani petani tanaman kakao di Kecamatan Lubuk Tarok.
  2. Menghitung besarnya ratio penerimaan atas tenaga  kerja usahatani tanaman kakao.
  3. Menghitung besarnya ratio penerimaan atas modal usahatani tanaman kakao
D.    Manfaat Pengkajian
Dengan adanya pengkajian ini diharapkan ada beberapa manfaat antara lain :
  1. Sebagai bahan informasi awal bagi petani kakao mengenai usahatani kakao di daerah pengkajian.
  2. Dapat memberikan gambaran pelaksanaan usahatani kakao didaerah pengkajian sehingga dapat diketahui faktor pendorong atau penghambat dalam pelaksanaannya.
  3. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan dan pengembangan usahatani kakao di Kecamatan Lubuk Tarok.
II.       TINJAUAN PUSTAKA

III.     METODE PELAKSANAAN

A.    Waktu dan Tempat
Pengkajian analisis usahatani tanaman kakao ini dilaksanakan dari tanggal 16 Maret 2010 sampai dengan 15 Mei 2010, di Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat.
B.     Metode Kajian
Metode yang digunakan dalam pengkajian ini adalah metode survey. Metode survey merupakan penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik dari institusi sosial, ekonomi atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah (Nasir, 2003)
C.    Teknik Pengambilan Sampel
Untuk mendapatkan sampel digunakan teknik juggeming sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan penilaian terhadap karakteristik anggota sampel yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Diketahui berdasarkan survey, jumlah petani kakao di Kecamatan Lubuk Tarok 359 orang (populasi). Menurut Soeharto (1989) populasi yang lebih dari 100 orang yang tingkat homogenitasnya tinggi dapat digunakan sampel sebesar 15 %. Jadi sampel diambil 15 % dari 359 orang, sehingga jumlah sampel keseluruhan 54 orang yang tersebar di enam nagari di Kecamatan Lubuk Tarok dengan kriteria luas lahan 0,25 – 2 Ha. Karena keterbatasan waktu dan dana, penulis melakukan analisis usahatani tanaman kakao ini cuma sampai tahun kelima, dengan alasan rata-rata umur tanaman kakao di kecamatan Lubuk Tarok berkisar antara 5 - 7 tahun
D.    Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam pengkajian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani sampel berdasarkan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah dipersiapkan sebelumnya dan pengamatan langsung dilapangan. Kuisioner disajikan pada Lampiran 1. Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait dengan penelitian seperti BPS, Dinas Tanaman Pangan dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung, Kantor UPTB-BPP Kemasyarakatan Kecamatan Lubuk Tarok, Kantor Camat Lubuk Tarok dan Kantor Wali Nagari Latang.
Adapun data primer yang dikumpulkan adalah data dari petani sampel yaitu :
a.       Identifikasi petani yang akan memberi informasi mengenai nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, serta jumlah tanggungan keluarga.
b.      Informasi lahan usahatani, berupa luas areal tanam, lokasi, jarak dari rumah ke pasar, status lahan, pola tanam, dan pengairan
c.       Informasi teknik budidaya, meliputi pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan, pemberantasan hama dan penyakit, panen dan pasca panen dan permasalahannya.
d.      Informasi input yang digunakan, meliputi pemakaian dan pengadaan bibit, pupuk, pestisida, peralatan dan tenaga kerja.
e.       Informasi biaya-biaya, meliputi biaya bibit, pupuk, obat-obatan, alat-alat, tenaga kerja, biaya pengolahan tanah, biaya penanaman, biaya pemupukan, biaya penyiangan, biaya panen, nilai sewa lahan, pajak bumi dan bangunan
f.       Jumlah Produksi dan harga jual tingkat petani
Sedangkan data sekunder yang dikumpulkan meliputi,
1.      Keadaan umum daerah penelitian meliputi geografi, topografi dan demografi
2.      Perkembangan luas tanam, luas panen dan produksi tanaman kakao
3.      Data pendukung lainnya.
E.     Variabel Yang Diamati
Berdasarkan tujuan pengkajian ini, maka variabel yang akan diamati adalah :
1.      Untuk mengetahui teknik budidaya kakao yang dilakukan oleh petani maka variabel yang diamati meliputi :
a.       Kultur teknis budidaya kakao mulai dari persiapan lahan, pemilihan bibit, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit serta pemanenan dan pasca panen.
b.      Sarana produksi yang digunakan berupa lahan, jumlah dan jenis benih/ bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja.
2.      Untuk menganalisis usahatani untuk melihat tingkat pendapatan dan keuntungan yang diperoleh dari usahatani kakao, maka variabel yang diamati adalah :
a.       Penerimaan yang meliputi jumlah produksi kakao yang diperoleh petani (kg) dan harga jual kakao ditingkat petani (Rp)
b.      Biaya total yang terdidiri dari :
(1)   Biaya yang dibayarkan, yaitu biaya yang benar-benar dikeluarkan dalam proses produksi serta biaya sewa lahan, biaya bibit, biaya pupuk, biaya obat-obatan (pestisida), biaya tenaga luar keluarga dan pajak lahan.
(2)   Biaya yang diperhitungkan, yaitu biaya yang diperhitungkan atas tenaga kerja dalam keluarga, bunga modal, sewa lahan milik petani dan biaya penyusutan peralatan.
F.     Analisis Data
  1. Data Kuantitatif
a.       Besarnya Pendapatan Usahatani/ Tahun
Menurut Hadisapoetro (1973), pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dengan semua biaya yang telah dibayarkan (tunai) selama proses produksi, secara matematis :
Yi = (Xi.Hxi) – Bt
Dimana :
Yi        : Pendapatan usahatani (Rp)/ periode 5 tahun
Xi        : Jumlah produksi (kg)/ periode 5 tahun
Hxi      : Harga jual produksi (Rp/kg)/ periode 5 tahun
Bt        : Biaya tunai (Rp)/ periode 5 tahun

b.      Besarnya Tingkat Keuntungan Usahatani
Menurut Hadisapoetro (1973), keuntungan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya total, Biaya total adalah seluruh biaya yang digunakan dalam proses produksi, biaya ini terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Biaya tunai adalah biaya yang dibayarkan yang terdiri dari, biaya sarana produksi, tenaga kerja luar keluarga, pajak, sewa tanah dan transfortasi, sedangkan biaya diperhitungkan adalah biaya tenaga kerja dalam keluarga, bunga modal milik petani dan sewa tanah.
Ki = (Xi . Hxi) – BT
Dimana :
Ki        : Keuntungan usahatani (Rp)/ periode 5 tahun
Xi        : Jumlah Produksi (kg) periode 5 tahun
Hxi      : Harga jual produksi (Rp/ kg)/ periode 5 tahun
BT       : Biaya total (Rp) / periode 5 tahun
c.       Rasio Penerimaan Atas Tenaga Kerja
Menurut Suryana (1981) perhitungan ratio penerimaan atas tenaga kerja merupakan perbandingan nilai penerimaan dengan total tenaga kerja yang digunakan. Penerimaan ini adalah penerimaan kotor selama satu musim tanam dikurangi dengan biaya selain biaya tenaga kerja. Sedangkan tenaga kerja yang dimaksud adalah jumlah hari kerja yang digunakan selama satu musim tanam.
Penerimaan – Biaya selain biaya TK
Ratio penerimaan atas tenaga kerja    =     -------------------------------------------------
Jumlah TK yang digunakan

Satuan yang digunakan untuk penerimaan atas tenaga kerja adalah rupiah perhari orang kerja ( Rp/ HOK )
d.      Rasio Penerimaan Atas Modal
Menurut Suryana (1981), ratio penerimaan atas modal merupakan perbandingan antara nilai penerimaan kotor dengan jumlah modal yang dikeluarkan. Modal dimaksud adalah jumlah modal yang dibayarkan selama proses produksi (biaya tunai). Dalam perhitungan dapat digambarkan sebagai berikut :
                    Penerimaan
Ratio Penerimaan atas modal    =
       Jumlah Biaya Tunai

  1. Data Kualitatif
a.       Teknis budidaya kakao akan digambarkan secara diskriftif kwalitatif dengan pelaksanaan yang dilakukan petani. Budidaya tanaman kakao dimulai dari pengolahan tanah sampai panen.
b.      Pengidentifikasian masalah yang dihadapi petani dalam melakukan usahatani kakao akan digambar secara diskriktif kualitatif dari tingkah laku dan pola usahatani yang ditemui dilapangan.

 
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. KESIMPULAN DAN SARAN

 By. Jabir, SST
Continue Reading »

PENGKAJIAN PENGARUH WAKTU PENYEMPROTAN JAMUR BEAUVERIA BASSIANA TERHADAP SERANGAN HAMA PBKo (Hypothenemus hampei) PADA TANAMAN KOPI

I.      PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tanaman kopi dikenal sebagai salah satu tanaman yang disukai oleh banyak jenis serangga hama. Sampai saat ini tercatat lebih dari 900 jenis serangga hama pada tanaman kopi yang tersebar diseluruh dunia. Di Indonesia terdapat beberapa jenis yang merupakan hama utama tanaman kopi, yaitu : hama penggerek buah kopi (PBKo) Hypothenemus Hampei, penggerek cabang hitam Xylosandrus compactus, penggerek cabang coklat X. morigerus, kutu hijau Coccus viridis,  dan penggerek batang merah Zeuzera coffea (Danarti, 2004).
PBKo sangat merugikan, karena mampu merusak biji kopi dan sering mencapai populasi yang tinggi. Pada umumnya, hanya kumbang betina yang sudah kawin yang akan menggerek buah kopi biasanya masuk ke buah dengan membuat lubang kecil dari ujungnya. Kumbang betina menyerang buah kopi yang sedang terbentuk, dari 8 minggu setelah berbunga sampai waktu panen. Buah yang sudah tua paling disukai. Kumbang betina terbang dari pagi hingga sore. PBKo mengarahkan serangan pertamanya pada bagian kebun kopi yang bernaungan, lebih lembab atau di perbatasan kebun. Jika tidak dikendalikan, serangan dapat menyebar ke seluruh kebun. Dalam buah tua dan kering yang tertinggal setelah panen, dapat ditemukan lebih dari 100 PBKo. Karena itu penting sekali membersihkan kebun dari semua buah yang tertinggal (Anonim,2002).
Pengendalian PBKo dengan insektisida sukar dilakukan karena hampir semua stadium perkembangan serangga PBKo berada di dalam buah kopi. Serangan serangga PBKo dapat dikendaliakan dengan salah satu cara yaitu dengan cara kultur teknis berupa pemangkasan baik pada tanaman kopi maupun pada tanaman naungan. Sebagai upaya mengatasi hama PBKo, dipandang perlu melakukan pengkajian pengelolaan hama yang ramah lingkungan dengan menggunakan agens hayati Beauveria Bassiana.
Saat ini produk bioinsektisida berbahan aktif Beuveria bassiana telah tersedia secara komersial di Indonesia. Meskipun demikian, tampaknya pemanfaatannya di lapang khususnya untuk tanaman perkebunan belum optimal. Padahal, lingkungan mikro tanaman perkebunan sangat ideal bagi perkembangan epizootik cendawan - cendawan entomopatogen, termasuk Beauveria bassiana. Keberlangsungan epizootik cendawan sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban lingkungan, dan kriteria ini dapat ditemukan pada tanaman-tanaman perkebunan yang banyak diusahakan di Indonesia. Disamping itu, pemanfaatan cendawan ini dan patogen serangga secara umum dalam pengendalian hama berpotensi memberi keuntungan ekologis jangka panjang terhadap keseimbangan hayati maupun keberlanjutan sistem pertanian (D.Soetopo dan IGAA Indrayani, 2007).
Jamur Beauveria bassiana merupakan spesies jamur yang paling populer untuk mengendalikan serangga. Beauveria bassiana diaplikasikan dalam bentuk konidia yang dapat menginfeksi serangga melalui kulit kutikula, mulut, dan ruas-ruas yang terdapat pada tubuh serangga. Jamur ini juga ternyata memiliki spektrum yang luas dan dapat mengendalikan banyak spesies serangga sebagai hama tanaman.
Sistem kerjanya, dengan melalui perkecambahan konidia. Dari sini akan tumbuh hifa yang dapat memasuki kutikula serangga dengan cara mekanis maupun enzimatis. Jamur ini selanjutnya akan mengeluarkan racun beauverin yang membuat kerusakan jaringan tubuh serangga. Dalam hitungan hari, serangga akan mati. Setelah itu, miselia jamur akan tumbuh ke seluruh bagian tubuh serangga. Kemudian dihasilkan antibiotik berpigmen merah yang menghambat tumbuhnya bakteri pesaingnya.
Beauveria bassiana secara alami terdapat didalam tanah sebagai jamur saprofit. Pertumbuhan jamur di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, seperti kandungan bahan organik, suhu, kelembapan, kebiasaan makan serangga, adanya pestisida sintetis, dan waktu aplikasi (Anonim,2008).
Dukungan ekosistem dan faktor abiotik (kelembapan dan temperatur) yang ideal merupakan modal awal upaya pengembangan Beauveria bassiana. Konidia Beauveria bassiana mudah diinaktifkan oleh sinar ultraviolet, sehingga pencegahannya dapat dilakukan dengan melakukan 3 kali aplikasi pada pagi (< pkl. 08.00) atau sore hari (> pkl. 15.00). Beauveria bassiana aman bagi serangga bukan sasaran, terutama serangga berguna dan musuh alami (D.Soetopo dan IGAA Indrayani, 2007). Sedangkan menurut Prayogo (2006) untuk mempertahankan efektivitas Beauveria bassiana dan untuk meningkatkan hasil pengendalian di lapangan melakukan aplikasi pada sore hari dan mempertinggi frekuensi aplikasi. Temperatur dan kelembapan tidak mempengaruhi infektivitas Beuveria bassiana, tetapi curah hujan sangat potensial mengurangi jumlah konidia dari permukaan daun akibat hanyut terbawa air hujan. Menurut Anonim (2000) penyemprotan jamur Beauveria bassiana terhadap serangan hama PBKo dilakukan pada pukul 6 - 8 pagi atau pukul 4 - 6 sore. Penyemprotan sebaiknya dilakukan sebanyak 3 kali dengan interval penyemprotan 10 hari.
Dari beberapa penelitian yang telah dipaparkan diatas waktu yang tepat untuk aplikasi penyemprotan Jamur Beauveria bassiana masih beragam. Dianggap perlu suatu pengkajian terhadap waktu penyemprotan jamur Beauveria bassiana terhadap serangan hama PBKo (Hypothenemus hampei) pada tanaman kopi sehingga nantinya hasil kajian dapat dijadikan suatu prosedur dalam pengendalian hama PBKo (hypothenemus hampei).
B.     Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh waktu penyemprotan Jamur Beauveria bassiana terhadap serangan Hama PBKo (Hypothenemus hampei).
C.    Kegunaan
Kajian dapat digunakan untuk membuat prosedur dalam pengendalian PBKo (Hypothenemus hampei)
D.    Hipotesis
H0
=
Waktu penyemprotan jamur Beauveria bassiana tidak berpengaruh terhadap serangan hama PBKo (Hypothenemus hampei)

H1
=
Waktu penyemprotan jamur Beauveria bassiana berpengaruh terhadap serangan hama PBKo (Hypothenemus hampei)
Didalam hipotesis dikemukakan bahwa waktu penyemprotan jamur Beauveria bassiana berpengaruh terhadap serangan hama PBKo (Hypothenemus hampei) / H1 karena apabila waktu penyemprotan dilakukan pada siang hari berpotensi merusak konidia jamur Beauveria bassiana. Temperatur dan kelembaban adalah faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan konidia Beauveria bassiana. Temperatur dan kelembaban yang lebih stabil pada ekosistem tanaman perkebunan akan sangat mendukung peran Beauveria bassiana dalam pengendalian hama utama tanaman perkebunan sehingga prospek pengembangannya sangat baik.


 II.      TINJAUAN PUSTAKA


III. METODE PELAKSANAAN

A.    Waktu dan Tempat
Pengkajian pengaruh waktu penyemprotan jamur beauveria bassiana terhadap serangan hama PBKo (Hyphotenemus hampei) pada tanaman kopi dilaksanakan selama 10 Minggu (1 Maret – 15 Mei 2010) yang bertempat di Desa Naga Lingga Kecamatan Merek Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara.
B.     Bahan dan Alat
Tanaman kopi yang digunakan sebagai bahan percobaan adalah tanaman kopi yang berumur 4 tahun dengan jarak tanam 3 x 4 meter, bahan – bahan yang digunakan adalah jamur beauveria bassiana yang berasal dari BBP2TP (Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan) Sumatera Utara, perekat (Super lem), dan air yang berasal dari air hujan. Jamur beauveria bassiana sebanyak 50 gram ditambahkan air bersih sebanyak 10 liter sehingga dan ditambahkan lem perekat (super lem) 20 cc. Sedangkan alat yang digunakan adalah hand sprayer.
C.    Metoda Pengkajian
Metode pengkajian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor yang diteliti adalah faktor waktu penyemprotan Jamur Beauveria bassiana terhadap penghambatan serangan hama PBKo yang terdiri dari 6 waktu penyemprotan yaitu :
      T1 = jam 6 pagi
      T2 = jam 7 pagi
      T3 = jam 8 pagi
      T4 = jam 3 sore
      T5 = jam 4 sore
      T6 = jam 5 sore
Sehingga akan didapatkan 6 perlakuan dengan 3 kali ulangan dengan jumlah percobaan sebanyak 18.
D.    Model Analisis
       Y ij =   u  +   Ï„ i  + Ñ” ij
           Keterangan :
Y ij           =  Hasil penghambatan serangan hama PBKo dari tanaman ke – j yang memperoleh perlakuan ke i
        u           =    Nilai tengah umum (rata – rata serangan)
        Ï„ i            =    Pengaruh perlakuan ke - i
           Ñ” ij           =    Pengaruh galat percobaan pada tanaman ke  - j yang memperoleh  
                           perlakuan ke – i
        (Gaspersz Vincent, 1994)
E.     Pelaksanaan Pengkajian
1.      Pengacakan Denah Rancangan
Pengacakan denah rancangan menggunakan sistem acak dimana memberi nomor pada tiap pohon kopi dari 1 – 100 dan menentukan 3 pohon sampel pada tiap perlakuan dengan sistem acak untuk digunakan sebagai percobaan. Percobaan dilakukan 6 perlakuan dengan 3 kali ulangan dengan jumlah percobaan sebanyak 18. Denah lapangan percobaan dapat dilihat pada lampiran 1.
2.      Pelaksanaan Percobaan
Pelaksanaan percobaan akan dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
a.       Melakukan identifikasi serangan hama PBKo (Hypothenemus hampei) sebelum dilakukan penyemprotan jamur Beauveria bassiana dan melakukan pengisian tabel identifikasi serangan hama PBKo (Hypothenemus hampei).
b.      Melakukan percobaan yaitu :
Tanaman yang akan disemprot yaitu tanaman kopi yang berumur 4 tahun yaitu kopi arabika varietas kopi ateng (Aceh tengah) dengan jarak tanam 3 x 4 meter. Bahan yang digunakan yaitu Jamur beauveria bassiana sebanyak 50 gram ditambahkan air bersih sebanyak 10 liter sehingga dan ditambahkan lem perekat (super lem) 20 cc. Larutan semprot diaduk hingga homogen (merata). Saring larutan tersebut, dimasukkan kedalam tangki semprot. Larutan tersebut diaplikasikan ketanaman. Penyemprotan dilakukan secara merata pada dompolan buah kopi.
Perlakuan I   : Penyemprotan pada jam 6 pagi pada tanaman 10, 70, dan 89
Perlakuan II     : Penyemprotan pada jam 7 pagi pada tanaman 72, 79, dan 83
Perlakuan III : Penyemprotan pada jam 8 pagi pada tanaman 23, 78, dan 85
Perlakuan IV : Penyemprotan pada jam 3 sore pada tanaman 8, 24, dan 60
Perlakuan V     : Penyemprotan pada jam 4 sore pada tanaman 21, 33, dan 91
Perlakuan VI : Penyemprotan pada jam 5 sore pada tanaman 6, 28, dan 39
Percobaan ini dilakukan dengan tiga tahap yaitu pada tahap I (pada hari pertama), tahap II (hari ke 11) dan tahap III (hari ke 21). Setelah melakukan 3 kali ulangan selanjutnya melihat pengaruh penyemprotan jamur Beauveria bassiana terhadap serangan hama PBKo (Hypothenemus hampei).
3.      Pengamatan
Pengamatan dilakukan 5 hari setelah penyemprotan tahap ke III (hari ke 21) setelah penyemprotan dilakukan 3 kali ulangan (Anonim, 2000). Mengamati bagaimana tingkat penghambatan serangan hama PBKo setelah dilakukan penyemprotan jamur Beauveria bassiana.
4.      Analisis Pengaruh Penyemprotan
a.       Jumlah (Yi) penghambatan serangan hama PBKo (Hypothenemus hampei) setelah penyemprotan jamur Beauveria bassiana
b.      Rata – rata (i) penghambatan serangan hama PBKo (Hypothenemus hampei) setelah penyemprotan jamur Beauveria bassiana
c.       Membuat Faktor Koreksi (FK)
d.      Menyusun tabel analisis ragam
e.       Melihat nilai tabel
f.       Menentukan keputusan hipotesis
g.      Uji Pembanding


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. KESIMPULAN DAN SARAN
By. demen

Continue Reading »